Blog From Author

persaingan antara Microsoft dan Google

Pendiri Paypal, Peter Thiel, punya cara amat bagus dalam menggambarkan persaingan di dunia digital. Dalam bukunya yang berjudul Zero to One, Thiel menceritakan persaingan antara Microsoft dan Google. Menurut Thiel, yang terjadi di antara dua raksasa teknologi informasi itu mirip dengan perang antarkeluarga dalam novel Romeo dan Juliet karya Shakespeare.

“Dua keluarga, sama-sama memiliki martabat. Kedua keluarga itu serupa, tetapi mereka saling membenci. Mereka bahkan mirip satu sama lain sewaktu permusuhan meningkat. Tetapi pada akhirnya (bahkan) mereka lupa apa alasan mereka (dulunya) mulai berperang.”

Dalam dunia bisnis, kata Thiel, hal serupa terjadi. Perusahaan awalnya berdiri sendiri, lalu sukses, kemudian terobsesi dengan persaingan, akhirnya kehilangan wawasan dan malah fokus pada pesaing mereka.

Thiel menyebut apa yang terjadi antara Microsoft dan Google mirip dengan apa yang terjadi antara keluarga Montague dan keluarga Capulet dalam Romeo dan Juliet. Dua keluarga besar dengan pemimpin cerdas dan ambisius, dan justru saling berperang karena kesamaan mereka.

Sesungguhnya konflik itu bisa dihindari, lanjutnya. Masing-masing toh berasal dari daerah berbeda. Keluarga Montaque membangun sistem operasi dan aplikasi kantoran, sementara keluarga Capulet membuat mesin pencari. Apa yang sesungguhnya dipertaruhkan? Mengapa keluarga Montague mesti terobsesi dengan keluarga Capulet, dan begitu pula sebaliknya? Mengapa kemudian muncul Windows vs Chrome, Bing vs Google Search, Office vs Docs, Surface vs Nexus, dst?

Bukankah pada akhirnya Microsoft dan Google sama-sama kehilangan dominasi mereka dan malahan Apple yang datang mengambilalih posisi? Pada Januari 2013, kapitalisasi Apple telah melampaui gabungan Microsoft dan Google, padahal 3 tahun sebelumnya nilai Apple masih lebih rendah dibandingkan Microsoft sendiri atau Google sendiri.

Cara Thiel bertutur soal kompetisi dengan mengambil novel Shakespeare ini amat menarik. Setidaknya ada perspektif baru yang ditawarkan dalam memahami suatu persaingan. Terlepas apakah analoginya menggunakan cerita dan tokoh novel itu benar atau berlebihan, paling tidak ada sesuatu yang bisa diambil di sana.

Pada bagian lain, Thiel juga mengutip novel Tolstoy yang amat terkenal, Anne Karenina. “Semua keluarga bahagia itu sama. Akan tetapi, setiap keluarga yang tidak bahagia itu tidak bahagia dengan caranya masing-masing.”

Di dunia bisnis, menurut Thiel, justru sebaliknya. Semua perusahaan yang gagal itu sama: mereka gagal membebaskan diri dari kompetisi. Sedangkan perusahaan yang sukses itu berbeda: masing-masing memiliki cara yang unik dalam memecahkan masalahnya.

Peter Thiel, dalam Zero to One, terbukti mampu mengambil cuplikan yang bagus dari kisah-kisah sastra terkemuka dunia untuk dilihat polanya dalam dunia bisnis.

Di bagian lain, dia mengambil cuplikan dari mitologi Yunani dan kisah tenar lainnya. Buku yang versi Indonesia diterbitkan Gramedia Pustaka Utama itu awalnya adalah materi kuliah yang disampaikan Thiel di Stanford. Salah satu peserta kuliah, Blake Masters, mencatat materi itu dengan rapih.