Blog From Author

John Sculley

John Sculley mungkin cocok dijadikan sosok antagonis di kerajaan Apple. Selain pernah memecat Steve Jobs dari perusahaannya sendiri, ia pun kini membelot ke Android dengan ponsel murahnya. http://digitalmarketingclub.id
Sukses membangun Pepsi Cola dan Apple Inc selama dua dasawarsa. Kemudian menjadi salah satu ahli marketing dan enterprenuer paling disegani di AS. Saat ini, ia mencoba peruntungan dengan membidani lahirnya smartphone Obi Mobile. Siapa dia sebenarnya? Umur boleh 76. Tetapi energinya masih prima, bersemangat dan tetap suka mengambil resiko dan tantangan. Setidaknya, ia memilih untuk meninggalkan rumah mewahnya di New York dan pergi ke San Francisco. Tidak lain untuk membidani lahirnya smarthpone Obi Mobile yang baru saja meluncurkan ponsel pintar SF1 dan SJ1,5.
"Semua bermula dari diskusi. Bagaimana dengan masa depan smartphone,” ujarnya dengan sorot mata yang masih berapi-api.
Didampingi oleh istrinya Diane Gibb Poli, ia menerima tamu yang sama-sama antusias. Tidak ada jarak yang ia inginkan dengan para tamu. Setidaknya terlihat dari panggung yang Sculley gunakan, bukan panggung megah layaknya bintang dan penggemar seperti peluncuran smartphone pada umumnya.
“Saya seorang suami dan ayah untuk anak-anak kami,” kata Sculley menyapa para jurnalis dan tamu undangan dari berbagai benua termasuk detikINET saat peluncuran Obi Mobile SF1 dan SJ1,5 di Autodesk, San Francisco, California, Amerika Serikat.
Perjalanan karir Sculley dalam dunia digital dimulai saat bekerjasama dengan Steve Jobs awal tahun 1980-an. Saat itu ia tertantang dengan pilihan Jobs: antara menghabiskan sisa hidup dengan menjual air bersoda atau ingin mengubah dunia.
Maklum, 5 tahun sebelum berkongsi dengan Jobs, Sculley sukses mengangkat Pepsi Cola. Kala itu, ia mampu menghadang dominasi Coca Cola, industri minuman bersoda yang tengah menjadi raja.
Dia tawarkan sejumlah strategy marketing seperti iklan di televisi, riset dan berbagai kampanye sehat minuman cola. Termasuk mempopulerkan botol plastik pengganti botol kaca supaya mudah dibawa pulang. Hingga akhirnya ia ditunjuk sebagai Presiden dan CEO Pepsi Cola saat usianya belum genap 40.
"Seluruh hidup adalah di persimpangan yang kritis," kata Sculley.
Tidak lama bergabung, Sculley dan Jobs terlihat dinamis dan saling mengisi. Keduanya kerap bertukar fikiran untuk memajukan Apple dan Macintosh, tempat Steve Jobs menjadi Kepala Divisi. Saat itu, analisis dari Business Week sampai menyebut Sculley-Jobs sebagai tim yang berjasa mengangkat reputasi Apple sepanjang masa.
Namun masa bulan madu berakhir saat penjualan Macintosh turun drastis pada pertengahan 1980-an. Sculley pun menawarkan strategi pemasaran untuk menghindari krisis tersebut namun ditolak Jobs. Saat itu, Steve Jobs menyalahkan semua orang termasuk Sculley.
"Steve adalah seorang pemikir besar, motivator yang menginspirasi. Tetapi untuk menjadi manajer sehari-hari, tidak," kenang Sculley dalam beberapa wawancara.
Kesal dengan sikap Jobs, Sculley dengan dukungan salah satu pendiri Apple Mike Markulla akhirnya memecat Jobs. Keputusan sulit itu membuat Jobs tertekan hingga menghabiskan waktu ke Eropa dan Uni Soviet sebelum memulai mendirikan perusahaan baru 'NeXT' dengan modal penjualan sahamnya di Apple.
Di waktu bersamaan, Sculley terus memoles Apple dengan ide-ide pamasaran yang brilian untuk keluar dari masa-masa sulit. Seperti membujuk sejumlah perusahaan sofware untuk bekerjasama dengan Macintosh dan menemukan pasar baru di desktop publishing (DTP). Sculley pula yang membuat penjualan Macintosh meningkat lagi sekaligus menempatkan Mac sebagai salah satu komoditas yang diperhitungkan secara bisnis.
Puncaknya saat ia berpidato di depan para tokoh teknologi yang berkumpul di Harvard Business Schools tahun 1992. Ia membawakan pidato berjudul 'Mega Industri Dunia Digital: Akses Informasi, Proses dan Distribusi'. Pidato itu mengakhiri karirnya di Apple dengan manis sebelum mencari tantangan baru dengan mendirikan MetroPCS.
Di perusahaan barunya, Sculley makin moncer. Kepiawaiannya mengolah pasar membuatnya menjadi salah satu ahli pemasaran, konsultan, mentor dan enterprenur paling disegani. Pun begitu, bukan berarti Sculley selesai dan 'gantung raket'. Dia lebih memilih untuk terlibat aktif mendirikan Obi Mobile, produsen smartphone yang ia gadang-gadang menjadi alternatif iPhone dari Apple. Alternatif karena harga ritel Obi mobile pada kisaran Rp 2 jutaan untuk anak-anak muda
"Mungkin, banyak di antara mereka bercita-cita untuk iPhone karena produk yang indah, tetapi mereka mungkin tidak memiliki ratusan dolar untuk membelinya," tandas Sculley.
Segmen anak muda dan harga terjangkau menjadi pertaruhan Sculley. Tentu tidak mudah karena di kelas ini sudah dibidik pemain mapan seperti Xiomi dan Lenovo.
Namun dengan rekam jejak Sculley di dunia marketing sejak lebih dari 4 dekade lampau potensi Obi Mobile untuk bisa survive tidak bisa diragukan. Grafiknya menunjukan, dalam tempo kurang dari setahun Obi Mobile sudah kembali merilis smarphone terbaru SF1 dan SJ1,5.
Sebelumnya, pada generasi pertama, ia menunjukan taringnya dengan meluncurkan sejumlah produk smartphone sekaligus saat menandai peluncuran Obi Mobile. Beberapa di antaranya yakni Obi Racoon s401, Leopard S502 dan Alligator S454. Generasi pertama Obi tersebut telah mendulang sukses di kawasan Afrika, Timur Tengah dan India.
Dengan kakak-adik SF1 dan SJ1,5 yang baru diluncurkan, akankah kembali mengulang manis seperti langkah strategis Sculley sebelum-sebelumnya?